PAKAR politik Unsyiah, Effendi Hasan menyambut positif rencana pembentukan museum perdamaian Aceh. Menurut Ketua Jurusan Ilmu Politik Fisipol Unsyiah ini, seharusnya pembangunan museum tersebut telah diimplementasi berdasarkan hasil diskusi beberapa tahun lalu.

"Seharusnya ini yang perlu ditekankan adalah kapan mulai dibangun. Apakah perencanaan ini hanya fokus dan selesai dalam diskusi ini saja," ujarnya pada Fokus Grup Diskusi (FGD) Rencana Pembangunan

Museum Perdamaian Aceh yang berlangsung di Grand Nanggroe Hotel, Banda Aceh, Jum'at, 24 Oktober 2014.

 

Ia mengatakan museum perdamaian menjadi sarana informatif dan edukatif masyarakat dalam memahami konflik dan tatacara penyelesaiannya di Aceh. Menurutnya konflik bersenjata yang terjadi selama 30 tahun tersebut berakhir melalui pendekatan negosiasi dan dialog.

Ia menambahkan museum yang dibangun bertujuan untuk mengelola pengetahuan dan pengalaman dalam penyelesaian konflik. Selain itu, katanya, museum juga mampu menjadi satu sumber pelajaran dalam menciptakan serta memperkuat perdamaian di Aceh.

"Jadi inisiatif pendirian museum perdamaian Aceh ini sendiri merupakan bentuk usaha untuk mengumpulkan kembali dokumen-dokumen yang berhubungan dengan proses penyelesaian konflik dan perdamaian di Aceh. Jadi dokumen tersebut menjadi catatan sejarah bagi masyarakat Aceh atas bukti penderitaan selama konflik bersenjata itu terjadi," ujarnya.

Sumber : http://atjehpost.co/articles/read/13486/Ini-Kata-Pengamat-Politik-Unsyiah-Soal-Museum-Perdamaian-Aceh